Carikan Bule Buat Gw Dong!

Akhir-akhir ini gw sering banget ketemu ama para wanita yang mendambakan suami seorang  bule. Hmmm...bukan bule jum yang jual pecel di pojokan Margonda ya. Tapi manusia-manusia berkulit putih yang istilah Jawa-nya: Londo

Ms. X: Miko...lo jadi khan mau jalan ke LN bulan depan?
Gw: Iya. Kenapa? Mau minta oleh2 apa?
Ms. X: Bawain gw bule aja deh. Yang cakep ya.

Ms Y: Miko, di area kantormu banyak expat-nya gak?
Gw: Iyalah...secara di business district. Kenapa emangnya?
Ms. Y: Gw maen ke kantor lo ya...kali-kali bisa kenalan ama bule lucu di sana

Ms. Z: Miko, clubbing yuk
Gw: Aduh....udah uzur nih...udah lewat masanya....
Ms. Z; Ayo dong.....gw pengen ke CJ nih....temenin dong....
Gw: CJ? Gw belom pernah sih ke sana. Bagus gak?
Ms Z: Seru tau....banyak bule di sana.

Ladies.....ada apa sih dengan kalian sehingga tampak sedemikian hausnya untuk mencari seseorang lelaki dengan kategori bule????????

Ms A: Orang bule itu romantis dan gak belagu kayak orang Indonesia
Gw: berarti situ belagu dong!

Ms B: Orang bule itu "barang"nya gede gak kayak orang Indonesia
Gw: berarti situ udah lebar banget dong!

Ms. C: Orang bule lebih settle secara finansial, gak kayak orang Indonesia
Gw: berarti situ matre dong!

Ms D: Orang bule itu cakep-cakep tapi gak belagu gak kayak orang Indonesia. Tampang gak seberapa tapi belagu
Gw: berarti situ  tampangnya item n jelek (orang bule bilangnya eksotis) dong!

Anyway, para wanita-wanita ini pun sering bercerita ke gw mengenai petualangan dan pengembaraannya mencari si bule idaman.

Ms. Q: Gila....itu bule tingginya hampir 2 meter kali. Tapi tititnya cuma 10 senti. Lemes pula.

Ms. R: Bule sialan! Badan udah gw kasih, malah pulang ke negeri asal

Ms. S: Huh. Ngakunya aja expat di perusahaan minyak. Taunya cuma backpackers jalan jaksa.

Ladies....that's why the bule always say: Indonesian girls are cheap and never say no if you want to have sex with her. This is true!

Mik, carikan gw bule dong.

Ogah!!! Gw takut dikira berganti profesi jadi germo.....

                            

Tamparan Sepotong Sayap Ayam (Blogdrive: March 2005)

Beberapa hari yang lalu gw janjian dengan teman lama untuk ketemuan sepulang kerja. Berhubung meeting point yang paling gampang di-akses adalah Sarinah Thamrin, kita sepakat untuk ketemu di sana. Sepanjang perjalanan 500 meter, gw merutuki kenaikan gaji yang gw terima menyusul kenaikan BBM dan juga barang-barang lainnya yang ikutan latah. Gaji yang gw terima sebenarnya di bawah market untuk seseorang yang memiliki kaliber seperti gw. Gw mikir-mikir, kapan gw bisa ganti handphone gw yang udah mulai lemot dan sering error? Kapan gw bisa jalan-jalan ke Thailand or Hong Kong barengan temen-temen gw? Gw semakin bersungut-sungut jadinya.


Sesampainya di Sarinah, gw mutusin untuk makan duluan secara temen gw bilang dia stuck di Kebun Jeruk dan perut gw dah gak bisa kompromi. Gw mutusin untuk ke KFC. Pada saat gw antri, di depan gw ada dua bocah umur sembilan tahunan yang ikutan antri. Bukan anak-anak seperti kebanyakan orang. Pakaiannya kumal dan kaki telanjangnya dekil terkena debu jalanan. Mereka sedang menimbang-nimbang paket hemat apa yang hendak dibeli. Dan mereka memutuskan untuk membeli Paket Super Panas. 1 nasi, 1 potong sayap ayam, dan satu gelas kecil minuman cola seharga 7800 rupiah. Harga sebungkus rokok kesukaan gw. Salah seorang bocah mengeluarkan segenggam uang recehan dan ditumpahkannya di depan cash register. Dengan pelan-pelan dihitungnya uang logam itu satu demi satu. Uangnya hanya ada 7300 rupiah!!! Gw menimbang-nimbang untuk membayarkan makan malam itu atau tidak, sementara si bocah sibuk mencari-cari di tas kecil yang disandangnya. Senyum lebar menghiasi wajah ketika ia menemukan uang lima ratusan yang terselip di dalamnya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju meja di dekat counter dan bersiap-siap untuk menikmati makan malam mewah mereka. Sepotong sayap ayam dan sebongkah nasi!

Giliran gw untuk memesan. Gw memesan 2 potong ayam, 1 nasi, 1 sup, 1 perkedel, 1 gelas besar minuman cola, dan 1 puding. Nyam..nyam....enak sekali. Pada saat makanan sudah siap dan gw harus membayarnya, salah seorang bocah tadi kembali lagi ke counter untuk meminta tambahan saus sambal dan tomat. Dia memandang makanan yang gw pesan dengan tatapan yang gw gak bisa artikan.

Tiba-tiba gw merasa perut gw penuh. Gw gak selapar tadi.

"Makan berdua?" tanya gw

Si bocah mengangguk.

Gw ambil sepotong ayam dan nasi yang sedianya akan gw makan dan gw berikan kepada si bocah.

"Terima kasih, om." lirih suara si bocah. Entah malu atau apa. Tapi suara lirih itu seperti tamparan keras dari tangan tak berwujud kepada gw.

Gw cuma menganggukkan kepala gw sambil memaksakan diri untuk tersenyum karena gw takut emosi gw tumpah.

Di meja gw tercenung. Memang gw gak semampu temen-temen gw yang bisa gonta ganti handphone begitu model baru diluncurkan atau berlibur ke tempat-tempat menyenangkan kapanpun dimaui. Tapi gw punya pekerjaan dengan gaji yang memungkinkan gw untuk makan di KFC setiap hari tanpa harus mengumpulkan keping demi keping uang recehan dlaam satu hari. Bahkan gw bisa minta bantuan ke ortu or kakak gw kalau gw kehabisan uang gara-gara gaji habis untuk membiayai kenakalan gw. Gw malu karena gw udah melupakan bahwa masih banyak yang jauh di bawah gw. Masih banyak di luar sana yang harus berjuang bahkan berdarah untuk nominal yang tidak seberapa untuk ukuran kita. Betapa gw sudah menjadi kufur nikmat. Gw malu.

Dalam diam gw mulai makan. Gw nikmati setiap kunyahan makanan. Gw syukuri setiap detik kesempatan yang diberikan untuk dapat hidup berkecukupan.

Terima kasih Tuhan.........

Cerita Seekor Lalat

Prolog:

Tiba-tiba seekor lalat terbang dan masuk ke dalam cangkirku yang berisi kopi. Menggelepar sesaat dan akhirnya diam. Tak bergerak. Mungkin sudah berakhir kehidupan seekor lalat. 'Mbok!!!!! ke sini dong...kopiku kemasukan lalat nih, tolong buatin yang lain ya...' kataku 'Iya, den, Mbok buat yang baru ya.' Kata simbok, pembantuku itu.....dan aku melanjutkan membaca koran seperti tidak ada kejadian apa-apa.

******************************************************************

Nama aku Mas. Aku tidak tahu nama asliku, cukuplah kalian memanggil aku Dul saja seperti kebanyakan orang Indonesia yang ada. Biasa kan, kita sering dengan: 'Si Mas itu kurang ajar banget..tiba-tiba menyalip ke depan mobil aku, kena lampu merah deh...' atau 'hari itu ban mobil aku kempes di jalan tol, untung ada Mas-mas itu, kalau nggak, nggak tau deh mesti gimana.. Nama atau istilah Mas sudah melekat dalam kehidupan kalian sehari-hari. Aku ? Aku adalah seekor lalat dari spesies Musca Domestica atau Lalat Rumah dari keluarga Diptera, yaitu serangga yang mempunyai dua sayap. Aku adalah satu dari 1.5 juta spesis lalat yang berterbangan di seluruh dunia. Aku berusia 8 hari dan pada usia hari aku sudah menjadi dewasa. Aku sudah menamatkan sekolah dasar dalam waktu 3 hari, sekolah menengah pertama dalam waktu 1.5 hari dan melanjutkan di SMA dalam waktu 1.5 hari.

Kemarin aku baru saja diwisuda dan mendapatkan gelar Sarjana Makanan dan Sampah dari Universitas Lalat. Tidak seperti Mas Parjo yang mendapatkan ijazah dengan mudahnya di pinggir tong sampah. Tadi malam, waktu aku terbang ke sana kemari mencari sesuap makanan, aku mampir sebentar di sebuah gang sempit di belakang sebuah bangunan. Aku melihat seorang perempuan yang cantik. Modis dan seksi. Aku hinggap sebentar di atas bahunya sebab aku hendak mengamati kalau ada sisa-sisa makanan yang ada sekitar sekitar tanah yang dipijaknya itu. Sialnya, aku dihalau oleh kibasan tangannya sambil mulutnya melemparkan makian.

'Lalat sialan!' makinya.

Aku dihina sedemikian rupa seolah-olah aku adalah seekor binatang yang berbahaya. Aku bukan binatang, aku adalah serangga. Walau aku dituding sebagai pembawa penyakit dan virus yang berbahaya seperti temanku, Nyamuk, paling tidak aku lebih baik dibandingkan dia. Tak berapa lama aku melihat dia digandeng seorang lelaki dan masuk ke dalam kamar yang kecil di belakang bangunan.

Ternyata......Sekotor-kotornya aku, kamu lebih kotor, lebih sial, lebih bangsat. Aku meninggalkan daerah kotor itu sambil memaki-maki biarpun dalam hati. Aku terbang lagi dan melanjutkan pengembaraanku di atas bumi milik Tuhan ini. Aku hanya ingin mencari rezeki dari rezeki yang kamu buang dan kamu lemparkan ke dalam tong sampah. Hinakah aku? Rezeki yang Tuhan berikan, kamu sia-siakan dan kamu berikan padaku. Siapa yang lebih hina? Aku tak pernah sia-siakan sisa-sisa rezekimu. Kalau jumlahnya banyak, aku panggil teman-temanku. Kami berkenduri dan berpesta di situ. Satu hal lagi, setidaknya aku membersihkan tanganku lebih dulu sebelum menjamah makananmu. Tidak seperti kebanyakan dari kalian yang langsung makan tanpa membersihkan atau mencuci tangan.

Pada saat pagi menjelang, aku terbang lagi. Itu adalah pekerjaanku dan itulah kehidupaku. Aku singgah sebentar di sebuah tong sampah di belakang sebuah rumah. Indra peraba pada kaki-kakiku memberitahu sesuatu. Ada banyak makanan di situ. Ada yang masih sangat baik dan pantas untuk kalian makan. Tetapi ini sudah menjadi rezeki aku. Sambil makan, aku melihat selembar koran. Aku membacanya dengan mata yang kabur karena aku mempunyai mata faset yang mampu memberitahuku adanya sebuah gerakan. Sekecil apapun gerakan itu. Oh ya, aku sudah pandai membaca waktu aku berusia aku satu hari, pada saat aku masil menimba ilmu di sekolah dasar negeri lalat. Isi beritanya membuatku muak. Berita tentang wakil rakyat yang selalu ribut dan berkelahi pada saat sidang, berita pemerkosaan, pembunuhan, kerusuhan dan lain sebagainya.

Selera makanku hilang. Di dalam bangsaku tidak pernah ada berita-berita seperti itu. Apa yang biasa aku dengar hanyalah berita kematian lalat yang ditampar dengan sadisnya oleh manusia, kematian lalat yang disembur dengan Baygon atau Raid, kematian lalat karena sakit tua, kematian lalat akibat terkena sengatan listrik pada jebakan ultra violet untuk serangga. Berita-berita yang memuakkan itu membuatku segera terbang meninggalkan tempat itu. Aku sudah kehilangan selera makan. Kalian memang membuatku muak. Sehina-hinanya bangsaku, bangsa kalian lebih hina.

Sambil terbang, banyak hal yang kupikirkan. Kenapa aku dituduh dengan bermacam-macam hal yang jelek? Aku tidak pernah berak di badan kalian tapi kenapa titik-titik hitam ciptaan Tuhan itu dikatakan sebagai tahi aku? Ironisnya, bila tahi aku berada di sudut bibir kalian, itu dikatakan sebagai pemanis? Kenapa aku dijadikan perumpamaan seperti lalat hijau mengerumuni bangkai? Padahal, tahi dan putaran kehidupanku pada bangkai menjadi petunjuk penting bagi para Pathologist untuk memperkirakan usia kematian kalian. Begitulah buruk dan hinanya aku pada mata kalian. Kadang-kadang aku pun ingin menjadi seperti burung. Terbang tinggi menembus awan. Tapi aku tetap bersyukur dengan anugerah Tuhan. Dengan sayap-sayap ini aku belajar arti kehidupan kalian. Walau aku cuma mampu hidup selama 40 hari. Jka aku beruntung, umurku bisa lebih dari 40 hari dan paling lama aku hidup hingga 100 hari. Itu adalah nasibku yang mungkin kalian tidak pernah tahu. Aku hanya mampu berdoa agar aku mampu hidup sampai 100 hari dan aku dapat menghindari kawasan-kawasan berisiko tinggi. Tidak seperti kalian, yang menjemput ajal sendiri di atas jalan raya dengan memacu sepeda motor atau mobil seperti seorang pembalap. Menyuntikkan racun ke dalam tubuh sendiri. Menghisap asap beracun berbahaya.

Sedihnya, aku masih dianggap hina dan bodoh.

Matahari semakin tinggi dan hawa menjadi semakin panas. Aku perlu mencari tempat yang nyaman untuk aku menenangkan pikiran. Bukan tempat yang terlalu dingin dan beku karena di tempat seperti itu aku bisa pingsan selama berpuluh-puluh hari. Tapi aku bisa cepat siuman jika aku dihangatkan walapun itu hanya hembusan nafas kalian. Aku melihat sebuah tempat yang berhawa sejuk, sebuah ruangan yang bagus. Aku masuk dengan menumpang pada seseorang yang membuka pintu. Aku terbang dengan gembira sebab tubuhku menjadi lebih nyaman terkena hembusan AC. Aku melihat sebuah komputer dan seseorang sedang melihatnya dengan penuh konsentrasi. Aku hinggap sebentar di atas kursinya. Dia tidak sadar bahwa aku ada dibelakangnya. Dia terlalu asyik. Aku mencoba membaca apa yang tertera pada layar monitor. 'Ah !, sebuah artikel dengan judul Life Is A Fairytale...sebuah tulisan tentang seekor lalat. Ada apa gerangan dia membaca cerita mengenai lalat? Tak ada pekerjaankah dia?  Apakah atasannya tahu atau tidak bahwa dia sedang berpura-pura bekerja? Apa dia tak sadar bahwa pemilik perusahaan membayar gajinya untuk bekerja dan bukannya membaca sebuah cerita tentang entah apa..' bisik hati kecilku. Dasar manusia. Aku terbang meninggalkan dia yang masih sibuk membaca cerita tentang seekor lalat. Mungkin dia ingin tahu ending cerita mengenai si lalat. Sangat menarikkah cerita seekor lalat?

Entahlah........yang pasti aku masih dianggap kotor, menjijikan, dan bodoh.

*********************************************************************

Lalat itu mati di dalam segelas kopi pada usia 10 hari. Dia tidak sempat menatap terbitnya fajar yang ke 100. Mungkin itu sudah takdirnya. Kalau dia hidup hingga 100 hari, mungkin dia bisa menjadi presiden lalat. Dan dengan daya fikirnya yang tinggi, dia mungkin mampu mengumpulkan lalat-lalat seluruh dunia dan menyerang manusia.

Lebih Baik Sakit Gigi......

19539017_f1f49cd529 Gak ada seseorang pun yang ingin merasakan sakit. Sakit secara fisik maupun hati. Kalau sakit secara fisik biasanya cukup jelas apa biang keladinya. Tapi sakit hati?

Seperti yang baru aja gw alami akhir-akhir ini. Gw merasa naik jet coaster yang gak ada ujungnya. Naik...turun...belok kiri....belok kanan...putar 360 derajat...dan seterusnya. Capek. Dan ketika jet coaster itu sedang berputar 360 derajat tiba tiba listrik-nya mati dan jet coaster berhenti total ketika gw ada di puncak putaran. Meskipun ada sabuk pengaman, tetapi gw tetap merasa akan jatuh. Dan di benak gw tersirat, sampai kapan sabuk pengaman ini mampu menahan badan gendut gw. Selain itu, sakit rasanya tertahan oleh sebuah sabuk pengaman. Tapi kalau gak ada sabuk pengaman pastinya gw sudah jatuh menghunjam bumi. Masih untung kalo langsung mati. Tapi kalo kudu merasakan sakit yang berkepanjangan???? Dan gw bersyukur untuk itu.

Kembali lagi kepada masalah sakit hati. Apa sih penyebabnya? Kenapa sampai Meggy Z pun menyanyikan "Lebih baik Sakit Gigi daripada sakit hati"? Padahal sakit gigipun amat sangat gak nyaman! Virus apakah gerangan? Dan ketika gw coba menganalisa, gw mendapatkan sebuah jawaban yang sangat pendek. Cuma dua kata. HIGH EXPECTATION.

Ketika sang pacar yang kita anggap setia selingkuh, kita sakit hati? Why? Karena kita menaruh harapan yang tinggi terhadap kesetiaannya pada kita. Ketika Big Boss menyatakan kita akan dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan segala kompensasinya dan ternyata minggu depannya dia bilang: "Maaf, kondisi perusahaan tidak dalam keadaan yang baik. Promosi ditunda sampai tahun depan.", kita sakit hati. Why? Karena kita menaruh harapan yang tinggi bahwa dapat peningkatan income dan otoritas. Banyak hal yang bisa gw tulis sebagai ilustrasi, tapi ujung-ujungnya adalah ekpektasi yang terlalu tinggi.

Benar kata sesepuh bahwa jangan terlalu melayang kalau mendapatkan sesuatu yang
"too good to be true". Tetap berpijak pada Bumi. Sakit hati boleh aja sakit hati. Biarpun mau nangis darah 7 hari 7 malam keadaan gak akan berubah.

Rasain! Makanya...jangan ketinggian!

Lebih baik sakit gigi daripada sakit di hati.....(sambil goyang pinggul)

Emang Susah Jadi Manusia

Hidup ini hanya sekali, jadi jangan terlalu khawatir. Huh!! Justru karena hidup cuma sekali, semuanya harus berjalan dengan baik dan sempurna.

Mati itu cuma sekali, jadi...gak usah takut melakukan sesuatu. Huh!! Justru karena nyawa cuma satu, gak mungkin dong sembarangan bertindak.

Jadi mau lo apa? Hidup dengan joyfull, segan. Menempuh resiko, tidak mau. 

Jadi inget lagunya Edi Silitonga jaman kuda gigit besi: Ngingong...ngingong..aku ngingong...tolelot tolelot....

Gw Masih Hidup

Buat gw hidup adalah sebuah komedi ironis. Komedi yang menceritakan sebuah pertarungan yang dilakukan individu untuk memenangkan sebuah permainan. Bukan sembarang permainan. Permainan mewarnai hidup. Dan orang-orang yang hidup adalah orang-orang yang mampu mentertawakan kebodohan maupun kesalahannya sendiri bersama-sama orang lain tanpa merasa sakit hati.

Detik ini gw merasa warna hidup gw mulai memudar. Semuanya berjalan begitu saja seperti jarum jam yang berputar tanpa henti. Otomatis dan sangat mekanis.

Detik ini pula gw merasa gw masihlah manusia waras. Yang menyadari "something wrong on me". Untuk itu gw hiaskan senyum di bibir gw.

Gw masih hidup.

"A, aku hamil."

"A, aku hamil. Sudah 3 minggu, telat." gumam Mira. Suara yang lirih namun membuat gw merasa bumi berhenti berputar.

Gw akan menjadi seorang ayah! Gosh !! "Kamu serius, Mir?" tanya gw dengan begonya. Gw gak percaya dengan semua ini. Ingin rasanya gw teriak. Tapi pastinya seantero Kemang Food Festival bakal ngeliat ke arah kita.

Jantung gw berdetak dengan cepat. Nafas gw memburu. Emosi di hati bercampur baur gak keruan. Gw rengkuh Mira ke dalam pelukan gw. Gw cium keningnya. Bukan untuk dia, tapi lebih untuk menenangkan perasaan hati gw yang riuh rendah.  Mira mendongakkan kepalanya.

"Sembilan bulan lagi kamu akan jadi bapak, A," bisik Mira "Atau mungkin juga tidak."

Dan pada saat itulah gw terbangun. Bunyi detik-detik jam yang bergema di tengah malam semakin membuat gw bingung.

Sumpah! Gw gak ngarti.

Kancing Yang Terlepas (Blogdrive: August 11, 2004)

Seperti yang gw tulis sebelumnya, gw mendapatkan "cuci otak" atau wejangan dari Bokap sejak gw masih kecil sampe sekarang. Pada saat gw merasa menjadi seseorang yang diabaikan di pergaulan sekolah. Gw merasa kesepian dan kosong. Pada saat mengadu ke ortu, Bokap bilang: "Miko, hidup kita adalah secarik kain putih kosong. Banyak sekali cat pewarna di sekeliling kamu. Kamu harus bisa membuatnya menjadi berwarna. Hanya kamu sendiri yang bisa membuat warna-warni itu tampak harmonis atau justru menjadi carut marut." Pesan yang amat berat untuk kemampuan berpikir abstract seorang abege. Gw sekarang tumbuh menjadi orang yang cenderung pemilih dalam menjalin sebuah hubungan.

Ketika gw punya seorang sahabat baik dan ada ketergantungan secara emosional, gw kudu berpisah dengan dia. Gw sedih dan sangat kehilangan, dan sekali lagi Bokap mengingatkan gw: "Miko, jangan pernah sekalipun kamu tergantung pada seseorang. Apapun itu bentuknya. Pada dasarnya kita hidup sendirian. Kita hidup hanya untuk diri kita sendiri. Kehadiran orang lain adalah pelengkap semata. Ibarat pakaian dengan bebagai macam aksesori dan kancing, suatu saat kancing itu akan copot dan hilang karena memang sudah satnya untuk kancing itu terlepas. Ada saatnya pula suatu aksesoris itu justru membuat pakaian menjadi tampak norak dan tidak pantas dikenakan, kamu bisa melepaskan aksesoris tanpa menjadi kehilangan rasa percaya diri." Nasehat Bokap membuat gw bisa merelakan kepergian sahabat gw. Gw tumbuh menjadi individu yang solitaire dan terkesan acuh dalam sebuah hubungan

Gw masih ingat juga waktu SMA ketika gw terkena masalah besar dan sangat memalukan hingga gw committed to suicide (yang syukurnya gagal), kembali lagi Bokap memberi wejangan: "Miko, kamu harus berani menghadapi dunia dan menunjukkannya bahwa kamu adalah orang yang berani. Kalau tidak, kamu hanya akan menjadi bulan-bulanan serigala-serigala di luar sana. Apapun kamu. Sejelek-jeleknya kamu, kamu tetap darah daging Bapak. Kamu tetap anak Bapak. Dan Bapak bangga karena kamu menjadi anak Bapak."  Wejangan yang gw pegang dengan kuat di hati gw. Gw tumbuh menjadi seseorang yang membungkus diri yang rapuh dengan kemasan sekuat baja dan menjaga self-image agar dapat tetap membuat ortu gw bangga terhadap gw.

Terlepas dari semua wejangan-wejangan Bokap yang sekarang membentuk pribadi gw, saat ini gw  menghadapi waktu yang sulit dan situasi yang tidak dapat diprediksikan. Dalam waktu dekat gw harus siap untuk melepaskan seseorang yang sangat berarti dalam hidup gw. Ketidakrelaan, ketakutan, kepedihan, dan semua perasaan bercampur baur. Tapi itu adalah kenyataan yang harus gw terima. Sepahit apapun.

Sebuah kancing siap untuk terlepas..................

JAKARTA = BIG PINEAPPLE (Blogdrive: August 3, 2004)

New York punya julukan big apple. Kalo Jakarta mungkin lebih cocok dijuluki big pineapple. Wangi n mengundang selera. Tapi kalo kita gak hati-hati untuk mencicipi sedapnya nanas raksasa ini, bisa-bisa ketusuk durinya or gatal tenggorokan. Terkesan manis tapi sering kali si nanas raksasa  justru punya rasa asem yang memecut mulut hingga bibir manyun mengerucut.

Gw tergolong new comer di Jakarta ini. Meskipun dulu sempat bersumpah gak bakalan mau tinggal dan kerja di Jakarta, akhirnya gw kudu menjilat air ludah gw sendiri. Kenyataan bahwa lebih dari 70% peredaran uang berada di Jakarta, memikat gw untuk meninggalkan nikmatnya kesederhanaan kota Jogja. Menjaring kepeng-kepeng untuk bertahan dalam hidup (tentunya dengan standar yang jauh lebih tinggi dari sekedar makan malam di angkringan).

Gw masih ingat, di awal 2003 di Jogja, dengan uang 5000 perak gw bisa makan kenyang. 3 kali sehari! CATAT: 3 KALI SEHARI. Nominal yang ngepas banget untuk bisa makan seadanya plus aer haus di warteg pinggiran got Jakarta untuk sekali makan. CATAT: SEKALI MAKAN. Selama di Jogja gw gak terlalu peduli dengan segala macam asesori penunjang penampilan yang representative. Sekarang mau gak mau gw kudu rela belanja ini itu untuk menjaga penampilan fisik yang representative karena tuntutan kerjaan gw. Dulu gw masih bisa jalan-jalan di mal dengan sendal jepit n jeans lusuh. Sekarang gw pasti bakal dikuntit satpam mal kalo masih nekat berpenampilan seperti itu n dikirain tukang kutil barang.

Setuju atau tidak, film Arisan! betul-betul potret yang ngejepret komedi kehidupan Jakarta dengan pas. Pertemanan palsu, hedonisme, dan segambreng topeng yang kudu siap dipake setiap saat dibutuhkan. Untungnya saat ini gw punya teman-teman baik yang baik dalam arti sebenarnya (jauh dari gambaran pertemanan ala film Arisan! Walau kadang-kadang kita suka juga ngumpul di fancy restaurant/cafe ala ibu-ibu arisan. hehehehehe). Gw punya tempat untuk berbagi suka dan duka.

Tapi apakah dibenarkan jika kita bergantung pada teman? Sekalipun kepada teman baik? Bokap selalu mengajarkan ke bahwa pada dasarnya kita hidup di dunia ini adalah sendirian.  Orang lain hanyalah sebuah aksesori yang memberi warna dan nuansa. Suatu saat aksesori itu akan lenyap karena hilang maupun ditanggalkan. Kejam? Mungkin itu kesan awal yang tertangkap, tapi gw udah bisa mengerti dan paham banget bahwa apa yang diajarkan Bokap, benar adanya.

Secara nominal, apa yang gw dapat saat ini, Alhamdulillah, cukup besar dibandingkan apa yang gw dapat sebelumnya di daerah. Tanpa bermaksud kufur, gw juga merasa bahwa tuntutan dan kebutuhan gw bertambah besar. Gw kudu rela menghabiskan lebih dari 60 jam seminggu untuk pekerjaan. Gw menjadi lebih solitaire dan individualis di kota Jakarta. Sisi manusiawi gw kadang menjerit dan minta pertanggungjawaban mengenai apa yang sebenarnya gw cari. Memang sih...segala sesuatu pasti ada yang harus dikorbankan. Tapi apakah pengorbanan ini cukup berarti demi sekepeng dua kepeng? Apakah Jakarta cuma sebagai tempat untuk melarikan diri dari tanggung jawab yang sebenarnya menungu di kampung? Gw gak tau. Atau tepatnya, belom tau jawabannya.

Mungkin gw kudu bertanya pada rumput-rumput yang bergoyang.....

Laksamana Raja Di Laut (Blogdrive: June 27, 2004)

Kemaren gw ketemuan ama temen-temen lama di Plaza Indonesia sesudah meeting panjang dengan boss. Selama ngobrol ngalor ngidul sambil makan di Chopstix, AFI alias Akademi Fantasi Indosiar jadi salah satu topik pembicaraan. Topik yang sepertinya gak bakal habis diomongin. Mulai dari akademia-nya, komentar-komentar dari "juri", penonton, sampe lagu-lagu yang dinyanyikan. Ngobrol sana ngobrol sini akhirnya ketahuan kalo kita bertiga jadi suka lagu Laksamana Raja Di Laut-nya Iyeth Bustami gara-gara dinyanyiin Tia AFI. Heuheuheuheu. Salah satu temen gw, Ida, ternyata punya kasetnya. Waktu gw mo pinjem, dengan juteknya dia bilang: "Sorry, itu lagu kebangsaan gw." Gondok banget gw. Karena panas ati, gw jadi pengen beli kasetnya. Sebenarnya di Plaza Indonesia ada toko kaset, cuma......tengsin!!!


Tengsin??? Kenapa harus tengsin? The angel side of me bilang begitu ke gw. Iya sih....kalo dipikir-pikir ngapain juga malu. Lagu melayu or dangdut gak  kalah ama jenis lagu yang lain. Tingkat kesulitan untuk menyanyikan lagu melayu bisa dibilang tinggi. Cengkok, pengaturan nafas dan lain sebagainya. Penyanyi dangdut pasti bisa untuk nyanyi lagu pop atau rock. Tapi penyanyi pop atau rock belom tentu bisa nyanyi lagu dangdut/melayu. SEE!!!


Emang sih.... penyanyi lagu melayu or dangdut sering banget berpenampilan "ajaib". Mungkin pengertian dari kata "ajaib" ini berlaku cuma untuk sebagian dari kita. Tapi buat sebagian yang lain, hal itu adalah sesuatu yang "keren". Dan vice versa pastinya. Apa yang sebagian dari kita bilang "keren", bagi sebagian yang lain mungikin akan menilainya sebagai "ajaib". Insight baru (walaupun ini mestinya udah disadari dari dulu) buat gw bahwa segala sesuatu adalah relatif. Tidak ada yang mutlak atau absolut. Mungkin apa yang gw bilang ini benar. Mungkin juga salah. Jadi....teuteup relatif.....


Malam ini gw kepaksa ngendon di kost gara-gara masuk angin. Sambil menikmati malam minggu di kamar, gw mainkan kasetnya si Iyeth, sementara di kamar sebelah pasang lagu Techno. Gw cuek aja. What's wrong with dangdut? Bergoyanglah bahu n pinggul gw...


Zapin.....daku dendangkan.....lagu melayu.......